Selamat Datang ke Blog kami

Selamat Datang Ke Blog Kami

Kamis, 24 Juni 2010

Kaitan Perkembangan Dengan Pengalaman Belajar

Gaya belajar kita adalah kunci untuk mengembangkan kinerja dalam pekerjaan, di sekolah dan di dalamsituasi-situasi antar pribadi. Ketika disadari bagaimana kita dan orang lain menyerap dan mengelola informasi, maka akan mudahlah kita belajar dan berkomonikasi dengan gaya kita sendiri. Kepada guru diharapkan untuk menyadari bahwa setiap orang mempunyai cara yang optimal dalam mempelajari informasi baru. Dengan mengetahui gaya belajar yang berbeda ini akan membantu guru dimanapun untuk mendekati semua atau hampir semua murid hanya dengan menyampaikan informasi dengan gaya mengajar yang berbeda beda.
Pengalaman belajar seseorang sangat erat hubungannya dengan gaya belajarnya yang dipengaruhi oleh berbagai variabel, yaitu faktor fisik, emosional, sosiologis dan lingkungan. Sebagian orang misalnya hanya dapat belajar dengan baik dalam ruangan yang sejuk, sedang yang lainnya akan mengantuk bila sejuk, lebih menghargai ruangan ruangan yang hangat untuk belajar. Sebagian orang memerlukan musik sebagai latar belakang, sedang yang lain tidak dapat konsentrasi kecuali dalam ruangan yang sepi. Ada orang yang belajar paling baik secara berkelompok sedangkan yang lainya hanya dapat bekerja sendiri karena lebih efektif.
Pada awal pengalaman belajar langkah pertama yang perlu dilakukan ialah mengenal modalitas kita visual, yaitu bagaimana menyerap informasi dengan mudah. Apakah modalitas kita visual, yaitu belajar melalui apa yang dilihat; apakah auditorial yaitu belajar yang yang dilihat; ataukahkinestik yaitu yaitu belajar melalui gerak dan sentuhan. Walaupun masing-masing dari kita belajar dengan ketiga modalitas itu pada tahapan tertentu, kebanyakan orang lebih cendrung pada salah satu diantara ketiganya (Bobbi De Porter, 2000).
Michael Grinder 1991 telah mengajarkan gaya gaya belajar dan mengajar kepada banyak instruktur. Menurut Grinder, dalam setiap kelompok terdiri dari tiga puluh murid, sekitar dua puluh orang mampu belajar secara efektif dengan cara visual auditorial dan kinestik, sehingga mereka tidak memerlukan perhatian khusus.
Sedangkan dari sisanya yaitu delapan orang, sekitar enam orang memilih satu modalitas belajar dengan sangat menonjol melebihi dua modalitas lainnya. Sehingga setiap saat mereka harus selalu berusaha keras untuk memahami perintah, kecuali jika perhatian khusus diberikan kepada mereka disesuaikan dengan modalitasnya masing-masing. Dua orang lainnya mempubnyai kesulitan belajar karena sebab eksternal.
Dalam mengajar guru hendaknya mampu mengomunikasikan materi dan menyampaikan informasi dengan menggunakan berbagai cara agar setiap anak dapat menyerap dan memahami untuk kemudian digunakan pada saat diperlukan. Agar proses belajar dapat berjalan dengan semestinya dan agar murid dapat memperoleh hasil belajar yang baik, semestinya guru mengetahui karakteristik mereka yang visual dan kinestik.
Sebuah pepatah Cina Kono yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, bunyinya:
Saya mendengar, maka saya lupa
Saya melihat, maka saya ingat
Saya melakukan, maka saya memahami.
Pepatah tersebut sejalan dengan modalitas yang telah dikemukakan yaitu bahwa murid mempunyai gaya belajar yang berbeda-beda: Visual, Auditoril, dan Kinestis, agar murid-murid memperoleh hasil belajar dengan baik, gaya belajarnya harus sesuai denagan gaya guru dalam mengajar.

Sekilas Pajak dan Zakat

Rabu, 23 Juni 2010

cerita sufi

Cerita Sufi yang pernah saya dengar yang diceritakan guru saya ketika SD adalah kira-kira: suatu ketika seorang ahli sufi hendak memasak didapur, tapi ketika ingin menyalakan dapur tidak ada api didapur sehingga beliau tidak bisa memasak. Mau pergi ketetangga ya harinya sudah larut malam. lalu beliau berencana mau pergi ke neraka, karena dineraka beliau fikir ada api, bahkan disanalah gudang api. Lalu beliau sholat dua rakaat minta kepada Allah SWT agar diperkenankan untuk bisa pergi ke neraka. Doa beliau dikabulkan. Ketika itulah beliau sampai di daerah neraka dan kemudian berjalan menuju gerbang neraka. sampai dineraka disambut oleh penjaga neraka "Hei bahlul mau ngapain kesini" "apa" kata si sufi itu "aku bukan bahlul tahu" "aku ini orang sholeh, aku kesini handak mencari api sebab aku kehabisan api untuk memasak". "maaf " kata si penjaga neraka "soalnya biasanya orang-orang disini orang yang bermasalah dengan kezoliman, makanya setiap orang datang disini ku sebut bahlul, maaf beribu-ribu maaf tuan sufi" kata si penjaga itu lagi. "tapi tuan sufi, maaf disini tidak ada api" "ah jangan bercandalah kau, inikan neraka gudangnya api masa ngga ada api". " ya tuan sufi, sebenarnya di neraka ini tidak ada api, sebenarnya orang-orang zolim itulah yang membawa api ketika dia masuk neraka" "jadi api itu berasal dari bawaan/manusia itu sendiri, begitu ya. Baiklah aku paham sekarang, kalau begitu aku mau pulang saja" kata si sufi itu. Sesampainya dirumah dia langsung aja berdoa minta api kepada tuhan, dan dikabulkan.